basa basi

gerakan bisu

Senin, 02 Mei 2011

rekayasa ulang akuntansi biaya : sintesis costing basis fungsional dan aktivitas

Pendahuluan
George Wilhelm Friederich Hegel (1770-1831) menunjukkan sebuah
dialektika berpikir yang dikenal sebagai “tesis-antitesis-sintesis” dalam
penelusuran sebuah ide. Suatu pemikiran awal (tesis) akan memicu munculnya
pemikiran lawan (antitesis) yang menawarkan proses yang lebih baik dan
cenderung berlawanan dengan tesis sebelumnya. Keduanya melebur menjadi
sebuah sintesis. Sintesis ini menjelma sebagai tesis yang akan ditantang atau
disempurnakan lagi oleh antitesis selanjutnya. Pola ini terus berulang hingga
dirasakan cukup atau tidak terbantahkan lagi, yang mana ini pun sesuatu yang
sulit diterima.
Diawali pemikiran yang sudah diterima umum (tesis) tentang dimensi
penentuan harga pokok (costing) dari sistem konvensional berorientasi struktur
fungsionalitas (functional-based costing atau FBC) perusahaan, kearah pemikiran
baru (antitesis) dimana perhitungan HPP menggunakan aktifitas sebagai pemicu
biaya (activity-based costing atau ABC).
Namun, dalam prakteknya, kedua teknik ini belum memberikan hasil
yang optimal sejalan dengan kebutuhan organisasi secara luas. Perekayasaan
ulang sistem akuntansi biaya (Cost Accounting Reengineering) dipandang sebagai
proses sintesis dari kedua dialektika di atas. Bagian selanjutnya akan menelaah
kedua teknik lebih rinci, yang dilanjutkan dengan sebuah analisis konseptual
berbasis literatur untuk menjawab mengapa diperlukan sintesis antara kedua
teknik tersebut dan langkah apa saja yang ditawarkan.

Functional Based-Cost Accounting

Functional Based-Cost Accounting dipandang sebagai sistem akuntansi biaya
tradisional. Sejarah perkembangannya biaya cenderung berkorelasi dengan
perkembangan akuntansi manajemen. Emblemsvag (2002) berpendapat, metode
akuntansi biaya tradisional/fungsional dirancang sekitar tahun 1870-1920
dimana penggunaan tenaga kerja intensif (labor intensive), otomatisasi tidak
berperan besar, variasi produk terbatas dan biaya tidak langsung pabrik (overhead)
dalam perusahaan umumnya sangat rendah. Sistem ini sejarahnya berkembang
berdasarkan pola konsumsi atas sumber daya produksi sekira tahun 1400-1600,
hingga disusunnya suatu struktur yang dikenal secara umum sebagai harga
pokok produksi (Cost of Goods Manufactured) oleh Henry Metcalf pada tahun 1885
((Kaplan and Atkinson, 1998). Realitas tersebut menujukkan bahwa fungsi costing
lebih mendapat perhatian utama akuntansi biaya daripada peran perencanaan
dan pengendalian (planning and controlling) dan pengambilan keputusan (decision
making).

Pengertian
Sistem konvensional mengakomodasi kebutuhan penentuan biaya hingga
saat ini dalam konteks pelaporan eksternal. Secara definisi, FBC adalah suatu
teknik perhitungan harga pokok produksi (HPP) yang dalam penelusuran biaya
overheadnya hanya menggunakan pemicu aktifitas berbasis unit atau volume
keluaran yang diproduksi (unit-based activity driver) dalam perhitungan harga
pokoknya (Hansen dan Mowen, 2004).
Kriteria yang paling utama tentunya adalah acuan terhadap volume dan
unit fungsional dalam perhitungan overhead, sehingga struktur ini disebut sistem
costing berbasis fungsional. Hal ini tercermin melalui kelompok-kelompok biaya
di tiap departemen, bersifat heterogen – biaya ini muncul dari beragam proses
dan umumnya tidak disebabkan oleh satu pemicu. Selanjutnya, karena basis
volume dianggap penting, sistem ini mengasumsikan bahwa seluruh biaya dapat
diklasifikasikan sebagai tetap atau variabel. Terakhir, metode ini tidak mampu
untuk menelusuri seluruh biaya overhead ke objek-objek biaya dengan prinsip
kausalitas yang akurat dan handal. Sehingga alokasi berbasis unit produksi
dijadikan dasar sebagai pendekatan dalam menghitung pemicu biaya yang
dibebankan ke produk. Pemicu biaya seperti jam kerja mesin dan jam kerja
buruh yang sangat berkaitan dengan volume unit dalam perspektif fungsional
dipandang penting dalam aktifitas costing. Semakin besar jam kerja mesin atau
buruh yang digunakan, maka meningkat pula biaya overhead yang dialokasikan
ke HPP. Oleh karena itu, FBC dikatakan berorientasi pada alokasi(allocationoriented). Gambar 1 mengilustrasikan akuntansi biaya berbasis fungsional.

Tantangan Functional Based-Accounting
Sejalan dengan berkembangnya kompleksitas dan pola pabrikasi
produk, sejumlah tantangan muncul terhadap FBC antara lain dengan
perubahan paradigma mengemukanya unsur manajemen dalam akuntansi,
faktor komposisi dalam proses costing (Gurses, 1999), pergeseran peran
akuntansi pertanggungjawaban (McNair dan Carr, 1994), dan penekanan
pada perspektif proses bisnis lintas fungsional.

Perubahan Paradigma Akuntansi Manajemen
Sejak 1960– khususnya 1980an – paradigma orientasi terhadap costing
berangsur-angsur berubah dan semakin mengacu pada peran akuntansi
manajemen. Beberapa faktor pendorong – orientasi pada pelanggan,
penggunaan informasi yang intensif (information intensive), meningkatnya
teknologi informasi yang berorientasi pada waktu dan kualitas produk,
serta tentunya kompetisi global yang mengarah pada keunggulan
kompetitif yang tahan lama – menuntut perlunya perencanaan dan
pengendalian atas sumber daya yang digunakan dan tindakan apa saja yang
harus diambil oleh para eksekutif agar pengelolaan dapat dilakukan dengan
tepat dan cermat. Akuntansi biaya berbasis fungsional dituntut berevolusi
untuk lebih berorientasi pada kebutuhan manajerial yang lebih condong
pada perencanaan dan pengendalian serta pengambilan keputusan yang
tepat waktu, tidak hanya berfokus pada perhitungan HPP (costing).

Berkurangnya komponen biaya buruh
Perluasan filosofi akuntansi manajemen yang berorientasi pada perbaikan
berkelanjutan memunculkan konsep konsep seperti Just-in Time, Kanban
production, Total Quality Management (TQM), Flexible Manufacturing, Target
Costing maupun Throughput Costing, yang berperan mengurangi komponen
tenaga kerja dalam ongkos produksi. Sebaliknya, Gurses (1999)
menunjukkan bahwa komponen overhead semakin besar berkontribusi
dalam perhitungan ongkos produksi. Biaya overhead pabrik antara lain
mencakup penjadwalan produksi, sistem informasi, pembelian,
penanganan bahan baku, penyusutan gedung, pembangkit listrik,
penerangan, pajak bangunan, dan asuransi. Biaya-biaya ini, dibandingkan
biaya buruh yang digunakan, lebih mempengaruhi keseluruhan biaya
produk (Granof, Platt, dan Vaysman, 2000). Mendasarkan tarif overhead
hanya pada biaya buruh atau dasar fungsional lainnya memungkinkan
overcosting atau undercosting relatif pada kompleksitas dan jumlah produk
pada produk yang variatif.

Efektifitas Akuntansi Pertanggungjawaban Fungsional
Rentang kendali manajemen yang semakin landai dan distribusi tanggung
jawab yang tidak hanya berfokus pada minimisasi biaya dan efisiensi biaya
buruh langsung pada lingkungan manufaktur fleksibel (Hilton, 2000)
semakin mengurangi relevansi sistem akuntansi pertanggungjawaban
fungsional (functional responsibility accounting) sebagai alat pengendalian.
Sistem ini cenderung mengarah pada persaingan individual antar pusat
penanggung yang bila tidak dirancang dengan baik menghasilkan
skeptisme bahwa akuntansi pertanggungjawaban lebih menekankan pada
pembebanan kesalahan daripada peran informasi. Sistem ini hanya
menghasilkan informasi varian yang selain detail namun nilai mata
uangnya kecil, juga terdistori akibat penggunaan tarif berbasis volume
produk yang berlaku pada suatu unit fungsional. Diperlukan suatu
mekanisme yang mampu menyediakan manajer kemampuan untuk
mengeliminasi biaya yang tidak bernilai tambah bagi produk.

Penekanan pada Pandangan terhadap Organisasi Berbasis Proses
Selanjutnya, penekanan pada kinerja individu ataupun segmen-segmen
individu menciptakan apa yang beberapa kritik sebut sebagai pola pandang
pipa atau pola pikir tabung. Bisnis seharusnya dipandang sebagai sebuah
urutan proses yang mengalir horizontal melintasi tiap fungsi organisasi
tanpa tersekat oleh batasan batasan vertikal. Cara memandang fungsional
dan vertikal menimbulkan duplikasi dan ketidaktahuan proses menyeluruh
yang pada akhirnya merugikan konsumen atau pelanggan dalam hal
penundaan waktu ke pasar, peningkatan biaya produk karena komunikasi
yang sulit mencerna keinginan konsumen. Gambar 3.2 mengilustrasikan
pandangan tabung dalam organisasi umum yang tersekat oleh
fungsionalitas masing masing, dimana tiap fungsi tidak mengetahui proses
yang sesungguhnya terjadi dan terbaik untuk merespon pelanggan.


ACTIVITY-BASED COST ACCOUNTING

Pengertian
Activity-Based Cost Accounting atau yang sering disebut sebagai
Activity-Based Costing (ABC) menjawab tantangan yang dihadapi sistem
fungsional dengan fokus pada aktifitas atau proses bisnis yang
sesungguhnya dikerjakan sumberdaya organisasi daripada berfokus hanya
pada lokasi atau unit fungsional sebuah pusat pertanggungjawaban
(Kaplan and Atkinson, 1998). ABC tetap mempertahankan aktifitas
konversi seperti di sistem konvensional, tapi juga mengakui pekerjaan lain
yang sifatnya pendukung dan tidak secara langsung terlibat dalam proses
fisik mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Melalui analisis aktifitas,
ABC berusaha untuk sebanyak mungkin dapat menelusuri pemicu biaya
yang ada sehingga dihasilkan suatu nilai HPP yang rerpesentatif terhadap
proses bisnis yang melatarbelakanginya.

Dengan sistem ini, penetapan biaya overhead ke objek biaya lebih
akurat dilakukan, karena terdapat hubungan sebab akibat antara kumpulan
biaya dan pemicu biaya yang ditetapkan. ABC juga memiliki karakteristik
utama. Pertama yaitu penetapan overhead pabrik yang tidak lagi hanya
mengandalkan satu pemicu biaya berbasis volume pada sebuah unit
fungsional. Terobosan ini tidak hanya menggunakan pemicu aktifitas atas
unit saja, tapi juga pemicu aktifitas atas non-unit (nonunit-based activity driver)
(Hansen dan Mowen, 2004). Pada ABC terdapat jenjang biaya yang
mencakup aktifitas tingkat-unit, aktifitas tingkat-batch, aktifitas
penanganan produk, aktifitas tingkat fasilitas. Kedua yaitu pentingnya
proses bisnis secara menyeluruh dalam bentuk identifikasi aktifitas yang
bernilai tambah bagi produk sehingga. Terakhir, karena sifat ABC yang
mensyaratkan hubungan rasional antara biaya dengan pemicunya, ABC
juga disebut berorientasi pada penuluran (tracing-oriented)
Bila dibandingkan dengan FBC, ABC lebih memenuhi kebutuhan
akuntansi manajemen. Dalam hal komponen ongkos produksi, penetapan
overhead cenderung lebih akurat karena berdasarkan prinsip kausalitas.
Dari sisi perencanaan dan pengendalian, penggunaan akuntansi
pertanggungjawaban berbasis aktifitas memberikan kesempatan pada
seluruh manajer melihat secara agregat proses bisnis yang perlu diperbaiki.
Hal ini mereduksi perilaku tidak menguntungkan akibat persaingan tidak
sehat yang cenderung melekat pada sistem konvensional. Dan dari proses
pengambilan keputusan, ABC memberi informasi mengenai kapasitas
yang tidak digunakan, identifikasi aktifitas yang bernilai tambah, dan
pengambilan tindakan dalam koridor Activity-Based Management (ABM)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar